Banyuwangi Siap Jadi Sentra Bioetanol, Pabrik 30 Ribu KL per Tahun Segera Beroperasi
BANYUWANGI (AktualLine)–Kabupaten Banyuwangi akan mengambil peran penting dalam mendukung transisi energi nasional melalui pembangunan pabrik bioetanol di kawasan Pabrik Gula (PG) Glenmore. Fasilitas ini diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 30 ribu kiloliter (KL) per tahun.
Pabrik tersebut dibangun di atas lahan seluas 10 hektare oleh PT Pertamina bekerja sama dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). Proyek ini masuk dalam fase awal program hilirisasi yang dijalankan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia.
Direktur Transformasi dan Kelanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyampaikan bahwa pabrik bioetanol ini akan mengolah produk sampingan tebu, yakni molase, menjadi energi bersih.
“Ini merupakan transformasi produk sampingan gula menjadi energi bersih. Dengan pabrik bioetanol terintegrasi di Banyuwangi, kita akan menghasilkan 30.000 kiloliter bioetanol per tahun yang akan mendorong swasembada energi melalui perekonomian rakyat,” kata Agung.
Ia menambahkan, keberadaan pabrik ini berpotensi menekan impor bahan bakar minyak (BBM) hingga USD 13,9 juta atau sekitar Rp 233,52 miliar. Selain itu, dampak lingkungannya juga cukup signifikan karena dapat mengurangi emisi karbon sebesar 66.000 ton CO2 ekuivalen per tahun.
“Ini akan menekan impor BBM dan menekan emisi karbon. Melalui substitusi impor BBM sinilai USD 13,9 juta akan dicapai ketahanan energi, dan melalui pengurangan emisi karbon senilai 66 juta ton CO2 ekuivalen akan dicapai keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menilai pembangunan pabrik ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga pada kesejahteraan petani tebu.
“Bioetanol merupakan energi bersih yang lebih ramah lingkungan. Pabrik ini akan berkontribusi pada pasokan energi bersih nasional,” terang Ipuk.
Menurut Ipuk, keberadaan pabrik juga akan meningkatkan serapan tebu dari petani lokal maupun daerah sekitar.
“Tebu petani Banyuwangi dan daerah sekitar juga akan kian terserap maksimal, karena selain untuk kebutuhan produksi gula, juga untuk bahan baku bioetanol,” tambahnya.
Dari sisi hulu, Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Mahmudi, memastikan ketersediaan bahan baku dalam kondisi aman.
“Dari sisi feed-stock aman. Kurang lebih untuk 100 KLP kan butuh sekitar 120 ribu ton dalam setahunnya. Kebetulan produksi molase dari PT SGN secara total hampir 700 ribu ton. Saya kira cukup, nanti juga disupport dari 5 pabrik gula yang ada di sekitar,” ungkap Mahmudi.
Pembangunan fisik pabrik dijadwalkan mulai Juni 2026, dengan estimasi waktu pengerjaan sekitar 24 bulan. Proses groundbreaking telah dilakukan pada Jumat (6/2/2026).
Hasil produksi bioetanol nantinya akan dikirim ke Terminal BBM Pertamina, lalu disalurkan ke masyarakat melalui SPBU Pertamina.
Agung menjelaskan, saat ini Pertamina telah menyalurkan BBM Pertamax Green 95 yang mengandung 5 persen etanol di 177 SPBU di Pulau Jawa.
“Melalui pabrik bioetanol di Banyuwangi ini nantinya akan diperluas wilayah implementasinya dan ditingkatkan kandungan etanolnya. Sehingga akan seiring dengan negara-negara besar di dunia yang menggunakan etanol sebagai bahan bakar bersih,” pungkasnya. (tim)
