Masjid Sehat, Pengelola Hebat, Ummat Kuat

IMG-20260313-WA0039

Oleh : Ns. Achmad Efendi, S.Kep., M.Kep (Lembaga Kesehatan Masyarakat DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi)

 

MASJID adalah jantungnya ummat Islam, bukan sekedar tempat ibadah, tetapi masjid memiliki multifungsi menjadi pusat spiritual, sosial, pendidikan, dan kebangsaan.

Di Indonesia, salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, masjidnya bervolusi menjadi pusat kesehatan untuk mensejahterakan ummat, selaras dengan ajaran Islam yang menekankan keseimbangan jasmani dan rohani.

Fungsi Utama Masjid

Secara tradisional, masjid berfungsi sebagai pusat spiritual dalam artian sebagai rumah Allah Subahanahu Wa Ta’ala, untuk beribadah (shalat berjamaah, berdzikir).

Fungsi sosial masjid berupa pengelolaan zakat, bantuan untuk dhuafa, musyawarah kemasyarakatan, dan kegiatan sosial lainnya seperti fenomena “masjid makan-makan” di Jogokaryan Yogyakarta.

Fungsi pendidikan melalui Baitul Tarbiyah melatih literasi agama, literasi kebangsaan guna memperkokoh rasa cinta tanah air dan memperkuat rasa persatuan layaknya pada era Masjid Nabawi.

Masjid Sebagai Pusat Kesehatan

Banyak masjid di Indonesia mulai bergerak pada fungsi kesehatan sebagai upaya preventif (pencegahan melalui edukasi) dan kuratif (penanganan langsung) dengan tujuan menyehatkan dan mensejahterakan ummat.

Melalui program seperti “Masjid Sehat Pengelola Hebat Ummat Kuat” besar harapan masjid sebagai pusat berkumpulnya ummat dari berbagai tingkat usia, anak-anak hingga lansia dapat menjadi wasilah meningkatnya kesehatan mereka.

Pada tingkat usia anak-anak kegiatan dapat berupa; edukasi gizi pasca shalat jum’at “cegah obesitas dan stunting”, pemeriksaan gratis deteksi dini malnutrisi oleh kader kesehatan masjid yang bekerja sama dengan posyandu.

Tren issue remaja saat ini rentan mengalami gangguan kesehatan mental, maka masjid mengadakan kajian literasi kesehatan mental remaja dari sudut pandang Al-Qur’an dan Hadits Nabi dalam pengelolaannya.

Selain itu masjid dapat memfasilitasi remaja berupa konseling singkat pasca kajian tersebut. Sehatnya mental dan jasmani remaja pertanda makmurnya masjid di masa yang akan datang.

Melihat fenomena saat ini, hampir seluruhnya jama’ah yang istiqomah memakmurkan masjid pada rentang usia dewasa hingga lansia dengan segala kondisi konsep sehat-sakit.

Upaya kesehatan yang dapat dilakukan seperti; edukasi dan pelatihan perawatan mandiri penyakit tidak menular (hipertensi, diabetes, kolesterol, keluhan nyeri pada beberapa sendi tulang), kajian yang mengupas dan menerapkan pengobatan thibbun nabawi pada berbagai kondisi sakit jama’ah, pemeriksaan gratis kadar gula darah, kolesterol, asam urat, dan konsultasi medis gratis.

Semua ini merupakan upaya mengintegrasikan spiritualitas agama islam dengan kesehatan, dimana shalat lima waktu secara alami memberikan impact pada kebugaran fisik. Contohnya masjid As-sunah Universitas Doktor Soekardjo di Kabupaten Banyuwangi menawarkan konsultasi kesehatan mental spiritual bagi warga kampus maupun eksternal kampus, pelatihan dan pengobatan kesehatan thibbun nabawi melalui kader kesehatan masjid yang telah terlatih.

 

Peran Pengelola Hebat

Pengelola masjid yang hebat memainkan peran penting terwujudnya masjid sebagai pusat kesehatan ummat. Program-programnya dapat di nilai menggunakan indikator profesionalisme yang nyata. Pertama, penerapan tata kelola dana ummat secara transparan, terperinci, dan terukur. Memiliki alokasi anggaran khusus sekitar 10-20% untuk support kegiatan kesehatan di masjid.

Hal ini memastikan bahwa kesejahteraan jasmani-rohani jama’ah benar-benar difasilitasi oleh setiap rupiah zakat dan infak. Kedua, bukti kuat lainnya adalah komitmen pengelola melatih jama’ah muda dalam bidang kesehatan baik itu kesehatan thibbun nabawi maupun kesehatan modern.

Tentunya pelatihan jama’ah muda ini wajib mendapatkan sertifikasi sesuai bidang keahliannya dalam kesehatan, minimal lima sampai sepuluh orang setiap tahunnya. Sehingga mereka dapat menyusun agenda kegiatan kesehatan mingguan.

Ketiga, Pengelola wajib berkolaborasi dengan pihak eksternal seperti; Dinas Kesehatan Banyuwangi, Lembaga Kesehatan Masyarakat (LKM DPD BKPRMI Banyuwangi), Puskesmas, instansi pendidikan kesehatan seperti kampus kesehatan UNIDSOE Banyuwangi dan lembaga kesehatan lainnya.

Kolaborasi ini menghasilkan kegiatan yang dapat terlaksana dengan rutin. Informasi kegiatan melalui media sosial masjid maupun media eksternal masjid yang dapat menjangkau lebih dari 500 jama’ah setiap bulannya.

Keempat, masjid menjadi pusat literasi kesehatan holistik yang berkelanjutan. Pusat literasi yang beradaptasi dengan era digital saat ini, misalnya edukasi kesehatan melalui media sosial (TikTok, Facebook, Instagram), group WhatsApp khusus kesehatan, membangun unit usaha mandiri masjid seperti klinik masjid sederhana yang di motori oleh kader kesehatan masjid.

Dampak Bagi Ummat Kuat

Dengan masjid sehat, ummat menjadi kuat secara fisik, mental, dan sosial, mendukung program pemerintah dalam bidang kesehatan di komunitas. menciptakan ummat sejahtera yang mandiri dan kuat.

Secara fisik, anak-anak terhindar dari stunting dengan adanya posyandu di masjid, dewasa dan lansia tetap aktif dalam pemenuhan activity daily living tanpa sering jatuh dan mengeluh nyeri. Berdampak pada kesehatan diri, dan perekonomian keluarga.

Dari sisi mental, utamanya pada remaja, masjid sebagai salah satu wadah mereka mencurahkan isi hati mereka dengan solusi sesuai norma agama islam melalui konseling setelah kajian, dapat mengurangi stres di keluarga, stres di sekolah, bullying, dan membangun sistem pertahanan emosional yang kuat saat menghadapi permasalah dalam kehidupan mendatang.

Aspek sosial berdampak terjalinnya silaturrahmi yang berdaya guna. menjadikan ummat yang berdampak dan lebih bermanfaat bagi masyarakat. Singkatnya, Masjid sehat dan pengelola yang hebat ciptakan ummat atau generasi yang kuat. Generasi mandiri yang dapat menjadi dasar utama agar masjid Indonesia tetap relevan menghadapi perkembangan zaman. (***)