Kualitas Meningkat, Banyuwangi BMX Supercross Makin Diminati Rider Dalam dan Luar Negeri
BANYUWANGI (AktualLine.com)–Banyuwangi BMX Supercross 2026 kembali menarik perhatian pembalap dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Sebanyak 331 rider ambil bagian dalam kejuaraan yang berlangsung pada 27–28 Juni 2026 di Sirkuit BMX Banyuwangi.
Antusiasme peserta tidak lepas dari kualitas sirkuit yang dinilai telah memenuhi standar internasional. Race Director Banyuwangi BMX Supercross, Dadang Haris Purnomo, menjelaskan bahwa jumlah peserta terus meningkat sejak ajang tersebut pertama kali digelar pada 2016.
“Ya setiap tahun meningkat, bahkan tahun ini kami sengaja membatasi peserta karena sudah 300 lebih. Mereka tertantang dengan Sirkuit BMX Banyuwangi yang memang sudah standar internasional, dan yang paling penting ini juga masuk kalender federasi balap sepeda dunia (UCI) untuk bisa peroleh poin,” kata Dadang Haris Purnomo.
Ketertarikan peserta juga datang dari luar negeri. Tim asal Singapura, misalnya, menurunkan 10 pembalapnya karena ingin merasakan lintasan berstandar Olimpiade yang dimiliki Banyuwangi.
Mereka menyebut sirkuit seperti ini hanya ada di Jepang, China, dan Banyuwangi di kawasan Asia.
“Treknya menarik, panjang, sangat menantang. Di Singapura tidak seperti ini,” kata Azel, rider asal Singapura.
“Panjangnya dua kali dari yang ada di Singapura. Capek, tapi sangat menyenangkan. Ini melatih kami bermain di sirkuit standar internasional,” ujar Hamzah, rider asal Singapura.
Sirkuit BMX Banyuwangi memiliki panjang lintasan sekitar 465 meter dengan empat high jump sebagai rintangan utama. Selain itu, sirkuit ini dilengkapi dua start gate setinggi 5 dan 8 meter serta tujuh line yang memiliki karakter berbeda sehingga dapat digunakan untuk berbagai kategori perlombaan.
Pelatih Thailand Cycling Association, Herve Krebs, mengatakan ajang di Banyuwangi menjadi bagian penting dalam program latihan timnya karena tidak banyak negara yang memiliki sirkuit BMX berstandar UCI.
“Kami disini untuk menggunakan race nya sebagai tempat latihan karena fokus kami di kejuaraan Nasional dan seagames seperti tradisi biasanya, kita tidak memiliki lebih banyak race jadi ini perlu kami lakukan untuk berlatih,” jelasnya.
Herve Krebs juga menyebut lintasan BMX Supercross Banyuwangi yang panjang menjadi tantangan tersendiri bagi para atlet yang dibawanya.
Kesan positif juga disampaikan Citra Mutia dari DKI Jakarta yang datang bersama keluarganya untuk mendampingi putranya, Rafa Thara, yang berlaga di kategori Challenge 11–12 tahun.
“Ini tahun ke-3 Rafa ikut di Banyuwangi. Sirkuitnya bagus, jadi favorit anak saya. Selain itu, Banyuwangi vibesnya menyenangkan. Tidak hanya mengantar anak, tapi juga bisa sekalian liburan di sini yang wisatanya bagus-bagus. Makanan juga murah,” puji Citra.
Hal serupa diungkapkan Imam Maftuh, orang tua rider cilik Aditama Elvan asal Tasikmalaya. Menurutnya, keberadaan sirkuit berstandar internasional menjadi alasan utama putranya ingin berlaga di Banyuwangi.
“Anak saya melihat sirkuit Muncar yang treknya panjang dan internasional dia langsung minta ikut lomba di Banyuwangi. Keren Banyuwangi, tidak semua tempat di Indonesia punya komitmen membuat fasilitas untuk pengembangan bibit atlet. Salut untuk Banyuwangi, ditambah kondisinya juga mendukung rider berlatih dan bertanding di sini,” kata Imam.
Sejak pertama kali digelar pada 2016, Banyuwangi BMX Supercross terus menunjukkan perkembangan. Peningkatan jumlah peserta dari tahun ke tahun menjadi bukti bahwa ajang ini semakin diperhitungkan sebagai salah satu kompetisi BMX bergengsi, baik di tingkat nasional maupun internasional. (tim)
