Ahsanu Amala
Moh. Husen, tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur
Oleh: Moh. Husen*
SORE itu, sedang asyik-asyiknya bergurau dengan dua orang teman di sebuah kedai kopi yang disertai hujan deras, tiba-tiba sebuah pesan terlihat masuk ke ponsel saya. Saya buka, ternyata seorang guru ngaji kirim voice note ke WhatsApp saya, sedang membaca Al-Quran surat Al-Mulk juz 29 secara tartil bersama para santrinya.
Saya tidak hafal surat Al-Mulk tersebut. Tapi karena jaman saya ngaji dulu surat ini termasuk favorit saya setelah Ar-Rahman, Al-Waqiah dan Al-Fath, maka hingga kini meskipun tidak menyimak langsung teksnya, saya bisa tahu kalau ada pembacaan yang salah panjang-pendeknya, tajwidnya, apalagi makhorijul huruf-nya.
Tentu saya mengapresiasi kiriman voice note lantunan tartil Al-Quran itu. Namun malam hari sesampainya di rumah, naluri hati ini kemudian mendorong untuk mencoba agar saya “membacanya” kembali walau satu ayat. Kalau pakai bahasa Qurannya, melakukan taddabur terhadap satu ayat.
Maka saya serahkan balik kepada si naluri, kira-kira ayat mana yang sebaiknya perlu saya garisbawahi untuk ditadabburi. Ternyata yang muncul di benak saya adalah dua kata pada ayat kedua surat Al-Mulk tersebut, yakni ahsanu amala.
Kita tahu, hidup ini tidak sekadar untuk dijalani, tapi juga untuk diuji. Alladzi kholaqol mauta wal hayata, liyab-luwakum ayyukum ahsanu amala. Allah menciptakan hidup dan mati untuk menguji siapa di antara kita yang ahsanu amala: yang paling baik amal perbuatannya.
Spontan saya menggarisbawahi, bahwa paling baik bukan berarti paling benar dalam ukuran mutlak, melainkan paling baik dalam menjalani setiap ujian yang datang. Ada orang diuji melalui berbagai jenis kematian, baik kematian fisik berupa kehilangan nyawa atau kematian yang lain: usaha bangkrut, jatuh sakit, dan lain-lain.
Kita sering berpikir bahwa ukuran keberhasilan hidup terletak hanya pada benar atau salah. Seolah hidup ini hanya dua warna: hitam dan putih. Padahal, di antara keduanya terbentang ruang luas yang bernama kebaikan. Tidak semua orang mampu benar dalam setiap langkahnya, tetapi setiap orang bisa berusaha baik dalam menjalaninya.
Menjadi benar itu ideal, tetapi menjadi baik itu juga realistis. Sering kali hidup menghadapkan kita pada pilihan-pilihan yang tidak sempurna. Kita mungkin tidak mampu menegakkan seluruh kebenaran, tetapi kita masih bisa bersikap baik dengan tidak menyakiti, dengan tetap menghormati, serta dengan menjaga empati di tengah keterbatasan.
Hidup adalah rangkaian ujian yang tidak selalu bisa kita menangkan, tapi selalu bisa kita jalani dengan kebaikan. Kadang, kita tidak mampu benar dalam pandangan manusia, namun tetap bisa baik dalam pandangan Allah yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun.
Mungkin, itulah yang dikehendaki oleh ayat tersebut: bahwa hidup bukan tentang menjadi yang paling benar belaka, melainkan yang paling baik dalam menjalaninya. Selebihnya, perhatikan, sambil bergurau, sebuah papan pengumuman di jaman kita sekolah dulu: “Harap Tenang, Ahsanu Sedang Ujian Ulang, hehehehe….” (***)
Banyuwangi, 11 November 2025
Penulis buku Jejak Kritik. Tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur.
