CWW: Konfercab NU Bukan Arena Konflik, Tapi Jalan Khidmah Jam’iyah
CWW sampaikan pandangannya jelang Konfercab PCNU 2026 usai shalat Maghrib di masjid besar Baiturrahman Genteng (7/1/2026)
BANYUWANGI (AktualLine)–Menjelang pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) PCNU Banyuwangi yang berlangsung pada hari ini, 7 Januari 2026, sejumlah opini bermunculan. Salah satunya dari Budi Kurniawan Sumarsono, SH atau yang akrab disapa Cak Wawan (CWW) mengingatkan pentingnya tertib organisasi sebagai bagian dari adab dalam ber-NU.
CWW mengatakan bahwa Konfercab bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan, melainkan hajat besar jam’iyah NU yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, musyawarah, dan kepatuhan pada aturan organisasi.
“Di NU, keputusan itu lahir dari kebersamaan. Kalau permohonan Konfercab ditandatangani bersama oleh Rais, Katib, Ketua, dan Sekretaris, maka membatalkannya juga harus melalui mekanisme yang sama. Membatalkan secara sepihak jelas tidak tepat, baik secara administrasi maupun adab,” ujar CWW, Rabu (7/1/2026).
Menurut praktisi hukum Banyuwangi tersebut, struktur NU sejak awal dibangun atas dua pilar utama, yakni Syuriyah dan Tanfidziyah, yang kedudukannya sejajar dan saling melengkapi, bukan saling meniadakan.
“Syuriyah dan Tanfidziyah itu mitra. Maka pembentukan panitia Konfercab juga harus dilakukan bersama. Kalau hanya satu pihak yang bergerak, berpotensi menimbulkan persoalan legitimasi dan rasa ketidakadilan di kalangan warga NU,” jelasnya.
CWW juga menanggapi sikap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang mengeluarkan surat penegasan terkait Konfercab PCNU Banyuwangi. Menurutnya, PBNU tidak sedang berpihak pada kelompok tertentu, melainkan menjalankan fungsi menjaga marwah dan ketertiban organisasi.
“PBNU menegaskan bahwa persetujuan Konfercab masih sah, surat penundaan yang tidak ditandatangani lengkap tidak memiliki kekuatan, dan panitia wajib mengundang seluruh peserta yang berhak. Ini bukan soal menang atau kalah, tapi soal keadilan dan keteraturan organisasi,” tegasnya.
Lebih jauh, CWW mengingatkan bahwa Konfercab seharusnya menjadi jalan khidmah, bukan arena konflik. Jika aturan dilanggar, dampaknya bukan hanya dirasakan pengurus, tetapi juga jama’ah NU di akar rumput.
“NU itu besar karena tertib, sabar, dan taat aturan. Aturan bukan untuk mengekang, tapi untuk menjaga kebersamaan. Tertib organisasi adalah bagian dari adab, dan adab adalah napas perjuangan NU sejak didirikan para masyayikh,” pungkasnya.
Ia pun mengajak seluruh warga NU Banyuwangi untuk menyikapi Konfercab dengan kepala dingin dan hati bersih demi keberlangsungan jam’iyah yang bermartabat. (tim)
