Ekonomi Warga Desa Adat Kemiren Bergeliat, Semua Generasi Kini Berdaya lewat Pariwisata
BANYUWANGI (AktualLine)–Kemajuan sektor pariwisata di Kabupaten Banyuwangi membawa efek domino yang luas bagi kesejahteraan masyarakat. Hal ini terlihat jelas di Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kecamatan Glagah, di mana aktivitas ekonomi warga dari berbagai jenjang usia semakin meningkat.
Pengembangan desa wisata tersebut menjadi ladang penghasilan baru bagi penduduk setempat. Tidak hanya kelompok usia produktif, warga lanjut usia pun turut merasakan dampak positif dari kunjungan wisatawan ke desa mereka.
Salah satu sosok yang merasakan manfaat tersebut adalah Mbah Ning, yang kini berusia 81 tahun. Meskipun tidak lagi muda, ia tetap produktif dengan menyajikan berbagai menu tradisional khas untuk para tamu yang berkunjung.
“Kalau ada tamu, saya ikut masak. Mereka kan minta yang khas Kemiren, seperti Pecel Pitik, Ayam Kesrut. Dari sini sudah bisa dapat penghasilan,” ujarnya.
Pariwisata di desa yang telah diakui oleh PBB ini memungkinkan lansia seperti Mbah Ning untuk tetap memiliki pendapatan dengan memanfaatkan keahlian memasak mereka. Aktivitas ini dirasa lebih ringan dibandingkan bekerja di sektor pertanian.
“Bagi yang sudah tua seperti saya, ini sangat membantu. Kerja di sawah juga sudah terlalu berat,” terang Mbah Ning.
Sementara itu, bagi generasi muda, perkembangan desa wisata memberikan ruang kreativitas sekaligus kesempatan untuk menjaga warisan leluhur. Rika, seorang pemuda asal Kemiren, menuturkan bahwa kehadiran wisatawan menjadi pemacu semangat anak muda untuk menjaga tradisi Osing.
“Desa kami sering didatangi tamu sejak menjadi desa wisata. Itu jadi dorongan bagi kami yang muda-muda untuk ikut melestarikan budaya,” kata Rika.
Rika aktif membantu memberikan layanan jasa wisata dan melayani pesanan makanan khas bagi para pelancong. Hal ini membuatnya tidak perlu mencari pekerjaan ke luar kota karena desa sendiri telah menyediakan peluang ekonomi.
“Dari sana, keluarga saya dapat tambahan penghasilan. Wisata benar-benar memberi dampak ekonomi bagi keluarga kami,” sambung Rika.
Berdasarkan catatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kemiren, saat ini terdapat 22 usaha kecil menengah yang berkembang di desa tersebut, meliputi bidang kuliner hingga kerajinan. Selain itu, terdapat 40 homestay yang sebagian besar merupakan rumah pribadi milik warga.
Ketua Pokdarwis Desa Kemiren, Moh Edy Saputro, menyebutkan bahwa eksistensi pariwisata juga menjaga keberlangsungan 18 sanggar kesenian di desa tersebut. Mengenai tingkat kunjungan, rata-rata tercatat ada 2 ribu hingga 4 ribu wisatawan per tahun dalam buku tamu.
“Sebelum pandemi Covid-19, kunjungan di Desa Wisata Kemiren sempat menyentuh angka 18 ribu kunjungan. Itu terjadi pada 2019. Namun setelah pandemi, kami berupaya menyuguhkan kebudayaan dalam pariwisata sebaik mungkin untuk mengulang kembali capaian waktu itu,” imbuhnya.
Berbagai prestasi internasional juga telah diraih oleh desa ini, mulai dari Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 hingga penghargaan sebagai salah satu jaringan desa wisata terbaik dunia dari UN Tourism. (tim)
