Pasar Takjil Ramai Saat Ramadan, Pemkab Banyuwangi Permudah Legalitas UMKM Kuliner

kgxjzabrxu_whatsapp-image-2026-02-25-at-070853

BANYUWANGI (AktualLine.com)–Ramadan membawa berkah tersendiri bagi pelaku usaha kuliner rumahan di Banyuwangi. Permintaan aneka menu berbuka puasa meningkat seiring maraknya pasar takjil yang difasilitasi pemerintah daerah.

Untuk memastikan produk yang dijual aman sekaligus memiliki kepastian hukum dan kehalalan, Pemkab Banyuwangi membantu pelaku usaha mengurus berbagai legalitas. Mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT, hingga sertifikasi halal diberikan melalui program pendampingan tanpa biaya.

“Legalitas usaha sangat penting bagi para pelaku UMKM. Selain mereka bisa mendapatkan kepastian hukum atas asetnya, juga meningkatkan kepercayaan konsumen, serta memberikan kemudahan akses permodalan melalui perbankan,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, usai menyerahkan dokumen legalitas kepada pelaku kuliner rumahan dalam kegiatan silaturahmi warga di Kecamatan Gambiran, Selasa (24/2/2026).

Ia menambahkan bahwa selain membantu proses administrasi, pemerintah daerah juga terus memberikan sosialisasi dan pendampingan bagi pelaku usaha kecil.

“Semoga dengan legalitas ini, produk para usaha kuliner rumahan ini kian laris,” kata Ipuk.

Salah satu penerima manfaat program tersebut adalah Fitria Sundari, pelaku usaha yang setiap hari membuat kue cenil dan cilok. Ia mengaku senang karena kini usahanya telah memiliki dokumen resmi.

“Awalnya tidak tahu kalau harus memiliki legalitas usaha. Terima kasih Ibu Bupati sudah membantu saya mengurus NIB dan sertifikat halal. Sekarang usaha saya sudah resmi dan diakui halal,” kata Fitria.

Di lingkungan Kampung Baru, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, terdapat sekitar 20 ibu rumah tangga yang menjalankan usaha kuliner rumahan. Wilayah ini dikenal sebagai sentra produksi jajanan tradisional yang dipasarkan melalui pedagang atau pengepul.

“Kami hanya membuat masakan, nanti sudah ada penampungnya. Jadi kami tidak repot karena sudah pasti terjual,” ungkapnya.

Produk yang dihasilkan antara lain cenil, urap-urap, aneka sayuran, lauk-pauk, serta berbagai menu berbuka puasa yang dipasarkan di lapak takjil dan warung.

Selama Ramadan, sebagian pelaku usaha menyesuaikan jenis produksi dengan kebutuhan pasar. Jika biasanya membuat jajanan basah, kini mereka beralih ke menu siap santap yang banyak dicari saat berbuka.

Seperti yang dilakukan Puji Astuti, yang biasanya memproduksi donat dan kue lapis. Selama bulan puasa ia memilih menjual lauk pauk.

“Harus pinter lihat peluang. Saat puasa biasanya masyarakat antusias berburu takjil dan lauk. Makanya saya inisiatif menjual lauk pauk. Alhamdulillah laris,” kata dia. (tim)