Sky Farm Glenmore Tawarkan Pengalaman Belajar Hidup Berdampingan dengan Alam

1786361581004_1

BANYUWANGI (AktualLine.com)–Founder Kiling Osing Banyuwangi, Aekanu Hariyono, mengaku terkesan setelah mengunjungi Sky Farm – Organic Culture di Glenmore, Minggu (9/8/2026). Menurutnya, pusat edukasi One Stop Sustainability yang didirikan pasangan dokter spesialis ortopedi, dr. Ananta dan dr. Anita, menjadi contoh nyata penerapan gaya hidup berkelanjutan yang layak dipelajari.

Aekanu mengatakan, kunjungannya ke Sky Farm berawal dari keinginannya mencari tanaman dilem yang kini mulai langka. Ia mengetahui tanaman tersebut masih dibudidayakan di Sky Farm setelah berbincang dengan dr. Ananta saat istrinya menjalani operasi di RSUD Blambangan Banyuwangi beberapa waktu lalu.

“Daun dilem memiliki filosofi yang sangat dalam bagi masyarakat Banyuwangi. Dahulu digunakan untuk mencuci batik dan setelah kering menjadi pewangi batik maupun lemari pakaian. Pesan moralnya adalah agar manusia tetap meninggalkan nama yang harum, bahkan setelah tiada. Karena tanaman ini mulai langka, saya ingin ikut melestarikannya sebagai media edukasi batik,” ujar Aekanu.

Ia mengaku kagum begitu memasuki kawasan Sky Farm. Menurutnya, kawasan tersebut tidak hanya menghadirkan suasana yang asri, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran tentang kehidupan yang selaras dengan alam.

“Sky Farm ini luar biasa. Konsepnya unik dan menarik sebagai pusat edukasi tentang sustainable living experience. Di sini kita bisa belajar langsung bagaimana hidup berdampingan dengan alam melalui praktik nyata, bukan sekadar teori,” katanya.

Dalam kunjungannya, Aekanu disambut langsung oleh dr. Ananta bersama Wanda, salah seorang manajer Sky Farm. Ia juga berkesempatan menikmati hidangan organik berupa pisang goreng, semangka, serta minuman berbahan bunga telang dan serai yang disajikan menggunakan peralatan bergaya klasik.

Menurut Aekanu, Sky Farm mengusung lima konsep kemandirian, yakni mandiri pangan, mandiri energi, mandiri air, mandiri pengelolaan sampah, dan mandiri serat.

“Semua tanaman di sini dibudidayakan secara organik tanpa pestisida. Hasilnya dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari maupun disajikan kepada para tamu yang datang dan menginap,” ungkapnya.

Selain itu, Aekanu juga melihat langsung proses pengolahan berbagai produk alami, mulai dari minyak esensial, sabun organik, hingga parfum berbahan tanaman.

Ia menambahkan, kebutuhan air di Sky Farm dipenuhi dari air hujan yang ditampung dan diolah, dilengkapi dengan sumur resapan sebagai cadangan air saat musim kemarau.

“Yang paling membuat saya takjub adalah penggunaan energi terbarukan. Ada biogas, panel surya, hingga bahan bakar alternatif hasil pirolisis limbah plastik. Ini menjadi bukti bahwa pengelolaan lingkungan bisa dilakukan secara terpadu,” jelasnya.

Tak hanya itu, sekitar 250 kepala keluarga juga dilibatkan dalam pengelolaan sampah. Sampah organik diolah menjadi maggot dan kompos, sedangkan sampah anorganik didaur ulang menjadi berbagai produk bernilai ekonomis seperti kancing, gantungan kunci, wadah plastik, hingga bahan bakar alternatif.

Di akhir kunjungan, Aekanu mengunjungi galeri fesyen ramah lingkungan yang dikelola dr. Anita. Berbagai busana berbahan serat alami dan kain perca dipamerkan di galeri tersebut, bahkan sebagian telah tampil dalam ajang fesyen internasional.

“Menurut saya, Sky Farm bukan sekadar kebun organik, tetapi laboratorium hidup yang mengajarkan bagaimana manusia dapat membangun kemandirian sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Tempat seperti ini sangat layak menjadi destinasi edukasi bagi masyarakat,” pungkas Aekanu. (tim)