Mendag Budi Santoso Lepas Ekspor Koral Hias Banyuwangi ke Amerika Serikat

phdu_qjjar_whatsapp-image-2026-08-28-at-152802

BANYUWANGI (AktualLine.com)–Menteri Perdagangan Budi Santoso melepas ekspor koral hidup hasil budidaya Banyuwangi menuju Amerika Serikat, Jumat (28/8/2026). Ekspor senilai 2.500 dolar AS tersebut menjadi salah satu contoh produk UMKM daerah yang mampu menembus pasar internasional.

Kegiatan pelepasan ekspor berlangsung di PT Srikandi Aquarium Ketapang, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Perusahaan tersebut membudidayakan koral hidup yang dipasarkan ke berbagai negara untuk memenuhi kebutuhan para penghobi akuarium.

PT Srikandi Aquarium Ketapang telah mengirim produk koralnya ke sekitar 20 negara yang tersebar di tiga benua. Dalam satu bulan, nilai transaksi ekspor perusahaan tersebut rata-rata mencapai 60 ribu dolar AS.

Koral yang dikirim ke pasar internasional merupakan hasil budidaya di wilayah Kecamatan Kalipuro. Saat ini terdapat lebih dari 20 jenis koral yang dikembangkan oleh pembudidaya setempat. Produk tersebut telah dipasarkan ke luar negeri sejak 2011.

Budi Santoso menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya membuka akses pasar internasional bagi produk-produk UMKM Indonesia. Sementara bagi UMKM yang telah berhasil melakukan ekspor secara mandiri, pemerintah akan membantu memperluas jangkauan pasarnya ke negara-negara lainnya.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memanfaatkan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara untuk mempromosikan produk dalam negeri sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli.

“Kementerian Perdagangan mempunyai Perwakilan Perdagangan, Atase Perdagangan, dan ITPC (Indonesia Trade Promotion Center) di 33 negara. Tugas mereka adalah mencarikan buyer atau mempromosikan produk-produk Indonesia. Salah satunya ya seperti produk dari UMKM yang ada di Banyuwangi,” kata Budi.

Menurut Budi, pelaku UMKM juga dapat mengikuti program business matching yang difasilitasi pemerintah. Melalui program tersebut, pelaku usaha dapat mempresentasikan produknya secara daring kepada perwakilan perdagangan Indonesia di negara tujuan.

“UMKM cukup presentasi online, nanti kita yang atur. Misalnya mau ke Amerika, ya nanti tinggal kita temukan dengan Atase Perdagangan kita di Amerika atau ITPC kita di Los Angeles dan di Chicago,” kata dia.

Setelah presentasi dilakukan, perwakilan perdagangan akan membantu mencarikan calon pembeli di negara tujuan. Apabila calon pembeli telah diperoleh, pelaku UMKM akan dipertemukan untuk kembali menjelaskan dan menawarkan produknya.

“Tahun lalu nilai transaksi (program tersebut) sudah mencapai 134,8 juta dollar AS, jadi 2 triliun lebih. Tahun ini, Januari–Juli itu transaksinya sudah 333 juta dollar AS. Itu 70% UMKM-nya belum pernah ekspor,” lanjutnya.

Budi menilai pendampingan terhadap UMKM yang telah memiliki pengalaman ekspor relatif lebih mudah. Pasalnya, para pelaku usaha tersebut umumnya sudah memahami berbagai persyaratan, termasuk standar kualitas produk dan ketentuan ekspor lainnya. Pemerintah selanjutnya dapat lebih fokus membantu membuka pasar baru.

Selain penguatan promosi, pemerintah juga memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan untuk memberikan kemudahan bagi produk Indonesia memasuki pasar global. Budi menyebut Indonesia memiliki perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat.

“Kita dengan Amerika surplus 18,11 miliar dollar AS. Ekspor kita tahun lalu itu 30,9 miliar dollar AS,” kata dia.

Budi juga menyampaikan adanya rencana penandatanganan perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa pada Oktober mendatang. Menurutnya, perjanjian tersebut akan memberikan peluang lebih besar bagi eksportir Indonesia untuk bersaing di pasar internasional.

“Jadi nanti bapak-ibu eksportir dapat kemudahan masuk pasar ke Amerika, masuk pasar ke Uni Eropa dengan tarif yang lebih rendah. Jadi kita bisa bersaing dengan negara yang lain,” terang Budi. (tim)