Dari Balik Lapas, Warga Binaan Perempuan Banyuwangi Diajari Keterampilan Meronce Tas

IMG-20260901-WA0056

BANYUWANGI (AktualLine.com)–Upaya meningkatkan keterampilan dan kemandirian warga binaan terus dilakukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi. Salah satunya melalui pelatihan seni meronce tas yang diikuti puluhan warga binaan perempuan di Aula Sahardjo Lapas Banyuwangi, Senin (31/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Lapas Banyuwangi bersama Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kabupaten Banyuwangi. Pelatihan diberikan sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membekali warga binaan dengan kecakapan hidup (life skill) yang dapat dimanfaatkan selama menjalani masa pidana maupun setelah kembali ke tengah masyarakat.

Mewakili Kepala Lapas Banyuwangi, Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (Ka. KPLP) Lapas Banyuwangi, Angga Nurdiansyah, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang memberikan manfaat bagi warga binaan.

“Pelatihan ini menjadi bekal keterampilan yang sangat penting bagi warga binaan setelah bebas nantinya. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti pada sesi pelatihan saja, tetapi benar-benar dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh warga binaan sehingga memberikan nilai manfaat yang nyata untuk kehidupan mereka kelak,” kata Angga.

Angga juga menyampaikan apresiasi kepada DPC IWAPI Banyuwangi yang telah menunjukkan kepedulian serta berkontribusi dalam mendukung pelaksanaan program pembinaan, khususnya bagi warga binaan perempuan.

Dari sisi pelaksana pelatihan, perwakilan DPC IWAPI Banyuwangi, Fitriah Wulandari, melihat warga binaan memiliki potensi untuk mengembangkan keterampilan yang dapat menghasilkan produk bernilai ekonomi.

“Seni meronce tas merupakan salah satu kerajinan yang sangat potensial dan dapat dikerjakan secara fleksibel di sela-sela waktu mereka menjalani masa pidana,” jelas Fitri.

Kolaborasi antara Lapas Banyuwangi dan DPC IWAPI Banyuwangi tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi warga binaan untuk terus berkarya dan mengembangkan kemampuan. Selain menghasilkan produk kreatif, keterampilan yang diperoleh juga diharapkan menjadi bekal untuk membangun kemandirian serta mempersiapkan diri ketika kembali berbaur dengan masyarakat. (tim)