Wamenaker Buka Pelatihan Vokasi di Banyuwangi, Anak Muda Didorong Manfaatkan Peluang Magang Jepang

IMG-20260923-WA0039

BANYUWANGI (AktualLine.com)–Peluang magang dan bekerja di luar negeri menjadi salah satu pilihan yang dapat dimanfaatkan generasi muda Banyuwangi untuk meningkatkan keterampilan sekaligus memperoleh pengalaman kerja internasional.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor saat membuka Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Batch IV, Magang Hub Nasional, serta program Magang ke Jepang hasil kerja sama dengan IM Japan di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Muncar, Banyuwangi, Selasa (22/9/2026).

Menurut Afriansyah, Indonesia saat ini memiliki bonus demografi yang besar. Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kompetensi dan keterampilan tenaga kerja agar generasi muda mampu memanfaatkan peluang yang tersedia, termasuk kesempatan bekerja di luar negeri.

“Di Indonesia sekarang bonus demografinya besar sekali. Bagi mereka yang berminat ke luar negeri kita didik, kita latih, kita berikan kompetensi dan skill yang memadai,” kata Wamenaker.

Ia menjelaskan, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) tengah mengembangkan program untuk menyiapkan tenaga kerja profesional dengan keahlian tertentu agar dapat ditempatkan di sejumlah negara mitra, termasuk Jepang.

Di Jepang, peserta magang maupun tenaga kerja Indonesia dapat ditempatkan pada sejumlah sektor sesuai kompetensi dan ketentuan kerja sama yang berlaku. Bidangnya antara lain otomotif, manufaktur, pertanian, hingga pengemudi (driver).

Afriansyah menyebut terdapat banyak alumni tenaga kerja Indonesia yang telah menyelesaikan kontrak kerja selama tiga tahun di Jepang. Selain memperoleh pengalaman kerja internasional, mereka juga mendapatkan penghasilan yang dinilai cukup baik.

“Sebagai gambaran, di sektor otomotif ringan seperti teknisi bengkel ban, montir ganti oli, hingga perbaikan ringan, itu mampu mengantongi penghasilan bersih sekitar Rp21 juta per bulan,” jelasnya.

Menurut Afriansyah, Banyuwangi termasuk salah satu daerah yang banyak menyumbangkan tenaga kerja untuk penempatan ke Jepang. Keberadaan BPVP Banyuwangi dinilai menjadi bagian dari upaya pemerintah menyiapkan tenaga kerja dengan kompetensi, keterampilan teknis, dan kemampuan bahasa.

“Banyuwangi salah satu terbesar untuk penempatan anak-anak kita ke negara Jepang. Keberadaan BPVP di Banyuwangi ini bentuk komitmen kami untuk menciptakan anak-anak kita yang punya kompetensi dan skill hebat-hebat, termasuk skill bahasa,” terang dia.

Afriansyah juga menyampaikan kondisi ketenagakerjaan Banyuwangi yang dinilainya relatif baik. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,7 juta jiwa, angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Banyuwangi disebut berada pada kisaran 10.000 orang.

“Ini luar biasa rendah, persentasenya kecil. Oleh karena itu harus kita dukung,” katanya.

Ia mengajak masyarakat memanfaatkan keberadaan fasilitas pelatihan vokasi secara optimal. Terlebih, Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia melalui Pelatihan Vokasi Nasional dengan kuota sekitar 220.000 peserta yang diperuntukkan bagi lulusan SMA/SMK. Pembiayaan program tersebut ditanggung negara.

Sementara itu, Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menyampaikan bahwa TPT Banyuwangi turun dari 4,03 persen menjadi 3,94 persen pada 2025.
Mujiono mengatakan, penurunan angka pengangguran tersebut perlu dilihat secara lebih luas. Tidak hanya dari sisi jumlah orang yang belum bekerja, tetapi juga menyangkut partisipasi angkatan kerja, kualitas pekerjaan, produktivitas, tingkat pendapatan, serta penduduk usia kerja yang tidak aktif dalam pasar kerja.

“Penurunan pengangguran itu tidak cukup dibaca sebagai keberhasilan penciptaan pekerjaan saja. Akan tetapi, kita juga harus memperhatikan partisipasi angkatan kerja, kualitas pekerjaan, produktivitas, tingkat pendapatan, dan jumlah penduduk usia kerja yang tidak aktif dalam pasar kerja,” tutur Mujiono.

Kepala BPVP Banyuwangi Susanto menambahkan, pelatihan vokasi yang dibuka tersebut diikuti 284 peserta. Pelatihan mencakup sejumlah bidang, di antaranya pariwisata, pengelasan, barista, pengolahan pangan, serta pertanian hidroponik.

“Sementara alumni dari BPVP Banyuwangi yang sudah terserap di dunia kerja di tahun 2026 ini mencapai 1.720 orang, baik yang bekerja di industri maupun yang memilih jalur wirausaha mandiri,” terang Susanto.

Untuk program Magang Jepang melalui kerja sama dengan IM Japan, tahun ini memasuki tahun kedua. Pada 2025 terdapat sekitar 100 pendaftar dan 95 orang di antaranya lolos tahap seleksi awal. Sementara pada 2026, dari 250 peserta yang mengikuti proses penyaringan, sebanyak 84 orang dinyatakan melanjutkan program.

“Banyuwangi ini menjadi pusat diklat fase pertama, sebelum nantinya para peserta melanjutkan ke diklat fase kedua di pusat pelatihan IM Japan di Bekasi. Jadi, dua bulan mereka kita godok di sini. Dua bulan berikutnya di Bekasi. Setelahnya dikirim ke Jepang,” jelas Susanto.

Salah satu peserta program magang IM Japan asal Banyuwangi, Mohammad Yahya Kamelasan, mengatakan dirinya telah mengikuti pelatihan selama sekitar satu bulan di BPVP Muncar bersama peserta lainnya.

“Jadi kurang satu bulan lagi sebelum lanjut diklat di pusat. Di sini kami belajar penguasaan bahasa Jepang, tentang budayanya, hingga kedisiplinan,” kata Yahya. (tim)