Banyuwangi Batik Festival 2026 Angkat Sabuk Mangir Latar Ukel, Perkuat Regenerasi Pembatik Lokal

wusfzqnrbc_whatsapp-image-2026-11-08-at-121608

BANYUWANGI (AktualLine.com)–Upaya menjaga keberlanjutan batik Banyuwangi terus dilakukan melalui penguatan industri dan regenerasi pembatik. Banyuwangi Batik Festival (BBF) menjadi salah satu ruang untuk mengenalkan kekayaan motif lokal sekaligus memperluas peluang pasar bagi para perajin.

Festival yang memasuki penyelenggaraan ke-14 tersebut digelar di Gesibu Blambangan, Sabtu malam (7/11/2026). Sebanyak 16 pembatik lokal menampilkan puluhan rancangan busana dengan sentuhan modern yang tetap mempertahankan karakter batik Banyuwangi.

Pada tahun ini, motif Sabuk Mangir Latar Ukel menjadi tema utama. Perpaduan garis tegas Sabuk Mangir dan liukan lembut Latar Ukel menggambarkan keseimbangan nilai kehidupan, perlindungan, serta keanggunan budaya masyarakat Using.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan, BBF merupakan bagian dari upaya menjaga warisan batik agar terus berkembang dan relevan dengan perubahan zaman. Hal itu disampaikan Ipuk melalui sambutan daring.

“Melalui festival ini, kita ingin motif-motif batik Banyuwangi terus dikenal, diwariskan, dan dikembangkan. Batik bukan hanya warisan budaya yang harus kita jaga, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar bagi masyarakat,” kata Ipuk.

Menurutnya, pelestarian batik perlu berjalan seiring dengan penguatan industri. Pemkab Banyuwangi terus mendorong penggunaan batik lokal di sekolah dan instansi, memperkenalkan batik melalui pendidikan, serta memberikan ruang promosi dan pemasaran bagi para perajin.

“Kami ingin batik Banyuwangi tidak hanya lestari sebagai identitas budaya, tetapi juga menjadi produk unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan pembatik dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Di sisi industri, Firman Syauqi dari Godho Batik merasakan manfaat penyelenggaraan BBF sejak pertama kali digelar pada 2013. Festival tersebut dinilai menjadi salah satu sarana penting untuk memperkenalkan batik Banyuwangi kepada pasar yang lebih luas.

Saat ini, Godho Batik mampu memasarkan hingga 750 kain batik setiap bulan dengan rentang harga Rp100 ribu sampai Rp5 juta per kain. Produk-produknya telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia hingga pasar mancanegara.

“Festival ini memberikan ruang promosi yang sangat berarti bagi perajin lokal,” ungkap Firman.

Ia menambahkan, pertumbuhan industri batik Banyuwangi tidak lepas dari dukungan ekosistem yang terus dibangun, mulai dari kebijakan penggunaan batik lokal, pengenalan batik di sekolah, hingga upaya regenerasi pembatik. Perkembangan tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah pembatik yang tergabung dalam asosiasi. Jika dahulu jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari, kini lebih dari 60 pembatik telah terdaftar.

Regenerasi pembatik juga berlangsung melalui pendidikan formal. Fiki Dwi Cahyono dari Serupa Batik, yang sekaligus mengajar di SMKN 2 Tegalsari, menjelaskan bahwa sekolah tersebut memiliki jurusan batik yang membekali siswa dengan keterampilan untuk memasuki industri.

“Pembatik di Serupa Batik sebagian besar merupakan alumni SMKN 2 Tegalsari. Mereka bisa memperdalam ilmu yang didapat di sekolah. Setelah memiliki pengalaman cukup, sebagian kemudian mengembangkan usaha batiknya sendiri,” terang Fiki.

Sementara itu, Dani Rusdian dari Batikan mulai tertarik mengembangkan usaha batik pada 2021 setelah melihat peluang pasar batik Banyuwangi yang cukup besar. Ia menilai dukungan pemerintah daerah dan masyarakat turut membuka kesempatan bagi pelaku usaha baru untuk berkembang.

Dalam perjalanan 14 tahun BBF, berbagai motif khas Banyuwangi telah diperkenalkan sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya. Di antaranya Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, Sekar Jagad Blambangan, Kopi Pecah, Gedhegan, Blarak Sempal, Sisik Blambangan, Sembruk Cacing, Jenon, dan Wader Kesit.

BBF 2026 terselenggara melalui kolaborasi Pemkab Banyuwangi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember. Kerja sama tersebut diharapkan semakin memperkuat pengembangan industri kreatif berbasis potensi lokal.

Selain peragaan busana batik, festival ditutup dengan penampilan Hanin Dhiya yang menghibur ribuan pengunjung di Gesibu Blambangan. (tim)