Wamen PPPA Resmikan PKBM NUN, 500 Warga Kampung Papring Berkesempatan Lanjutkan Pendidikan

IMG-20261010-WA0020

BANYUWANGI (AktualLine.com)–Sekitar 500 warga Kampung Papring, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, yang sebelumnya putus sekolah atau belum pernah mengenyam pendidikan, kini memiliki kesempatan melanjutkan belajar melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) NUN. Program ini menjadi upaya memperluas akses pendidikan bagi masyarakat di kawasan pinggir hutan, terutama kaum perempuan.

PKBM NUN diresmikan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan saat perayaan 11 tahun Kampoeng Batara (Kampung Baca Taman Rimba) di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pringgojati, Kalipuro, Jumat (9/10/2026). Peresmian tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono.

Lembaga pendidikan nonformal hasil kerja sama Kampoeng Batara dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi ini melanjutkan upaya pemberantasan buta aksara yang sebelumnya dijalankan melalui Sekolah Aksara Kampoeng Batara. Warga yang telah mengikuti program tersebut dapat meneruskan pendidikan kesetaraan mulai Paket A, Paket B, hingga Paket C.

Veronica Tan mengapresiasi konsistensi Kampoeng Batara dalam mendampingi masyarakat untuk memperoleh akses pendidikan, terutama anak-anak dan perempuan. Menurutnya, pendampingan yang dilakukan tidak hanya mengajak anak-anak belajar dan bermain, tetapi juga membantu para ibu yang sebelumnya belum mampu membaca dan menulis.

“Kami sangat mengapresiasi konsistensi yang dilakukan di kampung ini. Selain mengajak anak-anak untuk bermain dan belajar, tapi juga mendampingi ibu-ibu yang semula tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis melalui program Sekolah Aksara. Semoga ini bisa menjadi percontohan,” kata Veronica.

Founder Kampoeng Batara, Widie Nurmahmudy, menjelaskan bahwa nama NUN diambil dari huruf Nun dalam bahasa Arab yang memiliki filosofi sebagai wadah ilmu pengetahuan. Huruf tersebut melambangkan tempat tinta, wadah ilmu, sekaligus simbol awal penciptaan.

Bentuk huruf Nun yang menyerupai mangkuk dengan satu titik di dalamnya dimaknai sebagai tempat menampung sumber pengetahuan. Filosofi tersebut juga berkaitan dengan pena sebagai simbol literasi, ilmu pengetahuan, serta pencatatan perjalanan kehidupan manusia.

“Filosofi ini juga berkaitan dengan pena sebagai simbol literasi, ilmu pengetahuan, dan pencatatan perjalanan kehidupan manusia,” terang Widie.

Ia menambahkan, PKBM NUN dibentuk agar masyarakat yang telah mengikuti program keaksaraan tidak berhenti belajar setelah mampu membaca dan menulis. Melalui lembaga tersebut, mereka diharapkan dapat terus mengembangkan pengetahuan sekaligus memperoleh kesempatan menyelesaikan pendidikan melalui jalur kesetaraan.

Widie menyebutkan, perempuan, khususnya para ibu, menjadi sasaran utama program tersebut. Sekitar 80 persen peserta merupakan perempuan, sedangkan sisanya terdiri atas laki-laki dan anak-anak yang rentan mengalami putus sekolah.

“Program ini merupakan buah kerja keras dan gotong royong masyarakat,” kata Widie.

Sementara itu, Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono mengapresiasi semangat warga Kampung Papring dalam mengakses pendidikan meskipun sebagian besar peserta sudah tidak lagi berusia muda.

Mujiono menilai upaya tersebut sejalan dengan program Teman Lansia yang diluncurkan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Program itu bertujuan memastikan warga lanjut usia yang rentan tetap mendapatkan perhatian dan layanan.

“Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi semangat warga kampung ini,” kata Mujiono. (tim)