Pemkab Banyuwangi Gandeng IAI Jatim Dorong Pembangunan Berbasis Arsitektur Lokal

hckhlmjcht_whatsapp-image-2026-09-12-at-192617

BANYUWANGI (AktualLine.com)–Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memperluas kerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur untuk meningkatkan kualitas pembangunan daerah dengan tetap mengedepankan identitas lokal dan prinsip keberlanjutan.

Kerja sama tersebut ditandai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tentang Sinergi Pembangunan dan Pengembangan Potensi Daerah antara Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan Ketua IAI Jawa Timur Fafan Tri Afandy di Banyuwangi, Jumat (11/9/2026).

Melalui kolaborasi itu, keterlibatan arsitek akan diperkuat dalam berbagai pembangunan, mulai dari ruang publik, bangunan pemerintahan, fasilitas pelayanan masyarakat, tata ruang, hingga pengembangan kawasan pariwisata.

Bupati Ipuk Fiestiandani menjelaskan, pembangunan di Banyuwangi tidak hanya diarahkan pada pencapaian fisik, tetapi juga harus mempertimbangkan kenyamanan masyarakat, kelestarian lingkungan, serta karakter daerah.

“Arsitektur tidak hanya soal kemegahan, tetapi harus berpihak kepada masyarakat. Dengan kolaborasi bersama IAI, kami ingin terus memastikan ruang publik, taman kota, hingga tata ruang wilayah melibatkan arsitek agar pembangunan lebih nyaman, berkelanjutan, dan menyejahterakan masyarakat,” kata Ipuk.

Ia menerangkan, Banyuwangi telah menjalankan konsep pembangunan hijau selama lebih dari 14 tahun. Sejumlah bangunan publik di daerah ini juga telah melibatkan tenaga arsitek.

“Kita ingin pembangunan daerah tetap berkarakter dan tidak kehilangan jati diri, namun pada saat yang sama memenuhi standar kualitas dan keberlanjutan,” terang Ipuk.

Ketua IAI Jawa Timur Fafan Tri Afandy melihat kerja sama tersebut sebagai kesempatan untuk memperkuat ekosistem arsitektur sekaligus meningkatkan kualitas pembangunan di Banyuwangi.

“IAI bersama Pemkab Banyuwangi telah lama menjalin kolaborasi yang cukup intens. Kami melihat loncatan perkembangan bidang arsitektur yang cukup pesat di Banyuwangi hingga menjadikannya barometer arsitektur di Indonesia, khususnya di wilayah timur,” jelas Fafan.

Menurut Fafan, kemajuan arsitektur di Banyuwangi tidak terlepas dari konsistensi daerah dalam mengembangkan desain yang mengangkat identitas lokal sekaligus memperhatikan prinsip keberlanjutan.

Salah satu capaian yang menjadi tonggak perkembangan tersebut adalah diraihnya Aga Khan Award for Architecture oleh Bandara Internasional Banyuwangi. Penghargaan itu dikenal sebagai salah satu penghargaan arsitektur bergengsi di dunia.

Fafan menyebutkan, perkembangan ekosistem arsitektur juga terlihat dari bertambahnya jumlah tenaga profesional di Banyuwangi.

“Dari awal hanya terdapat tiga hingga empat arsitek, kini Banyuwangi memiliki 10–16 arsitek teregistrasi, 33 konsultan perencana, serta sekitar 80 sarjana arsitektur yang kembali ke daerah,” ujarnya.

IAI Jawa Timur, lanjut Fafan, juga berkomitmen mendukung peningkatan kapasitas para arsitek dan tenaga profesional di Banyuwangi.

“Saat ini telah terbentuk Komisariat Wilayah IAI Banyuwangi sebagai wadah resmi bagi para arsitek lokal untuk berpraktik, berkolaborasi, dan mengembangkan kompetensi,” kata Fafan.

Selain penguatan kapasitas profesional, IAI Jatim Komisariat Banyuwangi terus membuka ruang diskusi publik mengenai arsitektur. Salah satunya melalui rangkaian Gesah dan Pameran Arsitektur yang digelar pada 11–13 September 2026. (tim)