IMG_20230617_114702_774-860x860

Moh. Husen, tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur

Oleh: Moh. Husen*

Hari Minggu. Jalan kaki ke pasar. Di pojok selatan ada kios koran. Lantas membelinya dan membacanya sambari rileks di rumah. Itu dulu. Itu pun saya beli koran karena ada seorang kolomnis nasional yang saat itu rutin muncul di hari Minggu. Pak Kolomnis inilah yang menginspirasi saya untuk suka menulis. Dan sekarang saya terjebak: terpaksa nekat menulis karena sorot mata beberapa teman mulai “mengejek” saya: mana tulisanmu?

Akhirnya ya terpaksa menulis. Padahal menulis itu susahnya bukan main. Menulis itu tetap saja sulit, meskipun kini telah ada artificial intelligence (AI). Pelatihan menulis tetap saja digemari. Termasuk jika masih ada dosen yang suka menerima “order pesanan” skripsi dari mahasiswanya sendiri, bisnis gelap ini tetap tidak sepi peminat. Yang penting harganya cocok. Soal rasa malu adalah hal yang gampang diselesaikan dengan dalih kita sama-sama manusia lemah dan kotor.

Hanya motivator yang biasanya mengatakan menulis itu mudah. Tukang joki skripsi pun belum tentu bisa menuangkan ide dan gagasannya sendiri dalam bentuk tulisan. Para redaktur media jangan membayangkan dengan bertaburan pegiat literasi, mereka akan menyerbu email redaksi untuk mengirimkan opini, cerpen, atau puisi. Website kampus pun jangan dipastikan sebulan sekali ada mahasiswa atau dosen yang mengirim tulisan.

Tapi begini. Kalau melihat tukang joki skripsi bisa bikin skripsi untuk mahasiswa, tetapi si joki ini sendiri kesulitan menulis satu artikel atas namanya sendiri, meskipun hanya ditayangkan di media sosial pribadinya, jangan-jangan penyebab sulitnya menulis adalah tidak adanya honor. Kalau ada honor, jangan-jangan si joki lancar menuangkan ide-idenya ke dalam sebuah tulisan. Kalau ada honor, jangan-jangan website organisasi, sekolah, dan komunitas tidak akan mangkrak, sepi dan mati.

Saya pernah bertanya kepada seseorang yang pernah memegang website sebuah organisasi. Berapa lama para “petugas” bersedia mengirim berita atau opini? Ia menjawab, satu tahun. Itu pun bisa bolong dua atau tiga bulan tanpa satu tulisan. Meskipun terkadang dalam sehari pernah sampai lima tulisan masuk ke redaksi. Lantas kami bergurau: jangan-jangan mereka mundur alon-alon karena menulis nggak dapat honor.

Bagi sebagian orang, membicarakan honor dalam menulis adalah wajar. Bagi sebagian orang yang lain, mengaitkan menulis dengan honor merupakan hal yang tabu. Seorang narasumber seminar literasi pernah berujar: “Yang ingin belajar menulis untuk cari honor, sebaiknya mulai sekarang nggak usah ikut belajar menulis.”

Ada banyak alasan seseorang tetap menulis meskipun tanpa honor. Ada yang karena hobi, ada yang karena ingin mengkritik, ada yang ingin berbagi ilmu, dan lain-lain. Atau ada juga yang–siapa tahu–dengan menulis, tiba-tiba ponselnya berdering, lantas ada suara yang sangat jelas: “Tolong tulisan kamu tadi segera di-take down, dan nomor rekening kamu berapa?”

Niat menulis masing-masing orang terletak di hati. Orang boleh tidak percaya ada orang yang menulis bukan karena ingin dapat “cuan 86”. Dan orang juga boleh tidak percaya ada orang yang menulis karena tiba-tiba terlintas wajah teduh Pak Kolomnis yang sedang sangat ia rindukan. (***)

 

Banyuwangi, 8 November 2026

*Penulis buku Jejak Kritik. Tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur.