Echa, Jangan (hanya) Jadi Penyair 

IMG_20230617_114702_774-860x860

Moh. Husen, tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur

Oleh: Moh. Husen*

Agak telat saya menulis ini. Dengan menggunakan kaos hitam bertuliskan KiaiKanjeng dan demi melihat Echa Puri (EP) Albatiruna–saya, bismillah, malam itu masuk Zoom Bedah Buku Antologi Puisi Selasar Jejarak yang ditulis oleh tiga penyair Banyuwangi, yakni Muttafaqur Rohmah, EP Albatiruna, dan Nurul Ludfia Rochmah.

Mohon maaf, ada naluri spontan untuk men-support Echa, meskipun Echa tidak pernah memintanya, dan bisa jadi niat saya men-support itu malah “mengotori”-nya. Bahkan bisa jadi saya sekadar ndompleng, nunut eksis, melalui “nama” Echa dengan bergaya sok mengapresiasinya.

Supaya agak “puitik”, dalam bedah buku yang berlangsung secara daring pada Kamis malam itu (3/9/2026), saya support Echa cukup dengan senyum, diam, mendengarkan saja, serta kamera wajah yang saya matikan. Saya kaget, ternyata Echa posisinya sedang bekerja di luar negeri, di Turki. Rasanya baru kemarin sore kami ngobrol ngopi di terminal. Ternyata sudah 3 tahun lebih, dan kini di Turki.

Begitu saya membaca antologi puisi Selasar Jejarak yang di-share Echa ini, saya langsung “mabuk” (baca: tertarik). Lihatlah bait-bait puisi Muttafaqur Rohmah: Pada Nun, Alif, dan Mim, nama Tuhan Yang Maha Agung, namamu jatuh di lepas perasaan yang mendengung. (hal 44).

Lantas Echa: Aku mencintaimu / dengan cara yang paling sunyi: menyembunyikan luka / di balik senyum yang patah, menyimpan rindu / di dalam saku malam / yang berlubang. (Hal 92).

Disusul Nurul Ludfia Rochmah: aku tahu / tidak semua ruang akan memanggil namaku / tidak semua orang akan mengerti / cara semesta menjadikan seseorang / berani meraih jalan sunyi. (hal 146).

Malam usai acara, Echa saya japri: “Sudah tak baca puisinya. Benar-benar bagus. Puisi yang merdeka. Puisi yang manusia. Sip. Terus berkarya Mas Echa,” demikian saya sok mengapresiasinya. Alasan saya sederhana. Echa harus terus tumbuh dan berkembang. Jangan sampai patah di tengah jalan.

Bahasa jelasnya: Echa, jangan (hanya) jadi penyair. Echa yang sekarang berada di Turki, bagi saya, adalah Echa yang sedang memperluas jalan hidupnya dan bukan sekadar untuk kemudian ditulis olehnya. Ia sedang menyentuh kehidupan, bekerja, belajar, merantau, atau mungkin mencintai, terluka, jatuh, bangun, dan mengalami dunia dengan segala kerumitannya.

Karena itu, saya berharap Echa tidak hanya menjadi penyair yang pandai merangkai kata, tetapi juga menjadi manusia yang terus memperkaya makna kata, hingga ia menjelma menjadi keberanian mengambil sikap, menjadi kepekaan membaca zaman, menjadi kesanggupan memahami manusia yang berbeda, bahkan menjadi cara untuk tetap waras ketika dunia makin ruwet dan njlimet.

Tiap hari kita mungkin berjumpa dengan kata yang itu-itu saja: rumah, jalan, ibu, cinta, luka, malam, kursi. Tetapi makna sebuah kata tidak pernah benar-benar selesai. Ia bisa bertambah luas seiring dengan pengalaman, pengetahuan, perjumpaan, dan kedalaman seseorang dalam menjalani kehidupan.

Seperti kata kursi yang artinya adalah tempat untuk duduk. Tetapi kemudian kursi bisa menjadi simbol kekuasaan, kedudukan, jabatan, bahkan dalam Al-Quran terdapat Ayat Kursi. Artinya, satu kata dapat membuka begitu banyak pintu makna.

Dengan jam terbang yang panjang, begitu seorang penyair mampu menemukan makna dari sebuah kata, lalu dituliskan dengan tepat, pembaca akan seperti diajak melihat sesuatu yang sebenarnya selama ini ada di depan mata, tetapi belum pernah disadari. Sehingga membuat pembaca memiliki cara pandang yang sedikit berbeda terhadap kata, kehidupan, dan dirinya sendiri.

Ah, saya kok tiba-tiba sok menggurui. Padahal belum pernah saya merasakan betapa susahnya bikin satu puisi dan membacakannya. So, selamat dan sukses buat Echa dan para penulis antologi puisi Selasar Jejarak. (***)

 

Banyuwangi, 8 September 2026

*Penulis buku Jejak Kritik. Tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur.