Emang Tidak Lelah Mengkritik Sekolah?

IMG_20230617_114702_774-860x860

Moh. Husen, tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur

Oleh: Moh. Husen*

Setiap tanggal 23 Juli bertaburan flyer ucapan Selamat Hari Anak Nasional yang memang ditetapkan oleh pemerintah pada tanggal dan bulan tersebut. Biasanya, di lingkungan kita sehari-hari baik di dunia nyata maupun di dunia maya (medsos), berlangsung ngobrol tipis-tipis secara natural tentang anak sekaligus tentang dunia pendidikan, yakni sekolah.

Biasanya lagi, kawan-kawan ngobrol kita itu tak henti-hentinya memaparkan ide tentang sekolah yang baik demi anak kita: gurunya mesti harus begini, kepala sekolahnya mesti harus begini. Termasuk sekolah kok masih saja ada tarikan biaya dengan berbagai cara dan alasan, termasuk soal ijazah asli yang masih di tahan oleh sekolah swasta tingkat dasar.

Mohon maaf, biasanya kalau sudah membahas sekolah, saya agak spontan tarik napas sebentar, kemudian mencoba membawa situasi diskusi natural itu secara agak rileks menuju suasana rasan-rasan agar sedikit menemukan gairah untuk santai saja dengan sekolah yang sedang diperbincangkan.

“Kita ini kok tidak pernah capek ya mengkritik sekolahan?” Saya bilang begitu kepada teman-teman agar mereka tertawa.

Saya melanjutkan: “Mbok ya sudah. Sekolah itu nggak usah dikritik, asalkan bisa gratis dan anak kita dapat ijazah asli, bukan foto copy yang cuma dikasih legalisir.”

Kawan-kawan ngopi saya tertawa.

Saya terus melawak: “Emang kita masih percaya kepada sekolah, kok kita kasih masukan, saran dan kritik terus menerus? Emang kita tidak lelah selalu dan selalu mengkritik sekolah? Kita sekolahkan anak kita kan bukan lantas kita percaya kepada sekolah. Kita biasa-biasa aja. Sekolah aja yang ge-er. Anak kita ya tetap harus sekolah.”

Kemudian saya bercerita tentang wali murid yang usul via japri WhatsApp kepada kepala sekolah agar wali kelas melakukan home visit ke rumah-rumah siswa. Usul, bukan memaksa. Tapi usulan tersebut tidak dibalas lebih dari 24 jam. Sama-sama tidak dikenal, tapi nasib wali murid tersebut kalah jauh dengan kurir paket toko online yang kalau tanya alamat langsung dibalas.

Saya melawak lagi: “Kepala sekolah negeri yang nasib gajinya pasti itu saja, betapa beratnya membalas WA wali murid. Apalagi mau melaksanakan saran-saran yang lebih berat dari itu. Maka, biarkan sekolah itu bobrok, asalkan gratis dan anak kita dapat ijazah asli. Saya adalah orang tua yang selalu ragu-ragu kepada sekolah, tapi ya tetap basa-basi baik-baik saja menjaga sopan santun kepada pihak sekolah.”

Lantas, lagi-lagi seperti biasa, mereka “memprovokasi” saya supaya diskusi kelas warung kopi itu saya tulis agar saya dianggap mengkritisi sekolah. Padahal saya ini sangat pro dan cinta kepada sekolah, sampai-sampai mereka yang justru saya giring untuk berputus asa dan malas untuk mengkritik sekolah.

Kalau ada yang tanya: “Lho, katanya ragu-ragu, tapi kok pro dan cinta?”

Saya akan mengelak dan menjawab dengan perasaan anak muda yang sedang patah hati: “Cinta yang dikecewakan memang bisa bikin perasaan ragu-ragu. Tapi perasaan ragu, tak semudah itu akan otomatis menggugurkan cinta, penghormatan dan kasih sayang.” (***)

 

Banyuwangi, 24 Juli 2025

*Penulis buku Jejak Kritik. Tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur.