Pelajar SMK di Banyuwangi Ciptakan Kompor Berbahan Oli Bekas dan Minyak Jelantah

kngvjvqehn_whatsapp-image-2026-05-11-at-100314

BANYUWANGI (AktualLine.com)–Kreativitas pelajar di Banyuwangi kembali menarik perhatian. Siswa SMK Gajah Mada Banyuwangi berhasil mengembangkan kompor berbahan bakar limbah cair berupa oli bekas dan minyak goreng bekas pakai (jelantah). Inovasi tersebut dinilai mampu menjadi alternatif energi yang hemat sekaligus ramah lingkungan.

Inovasi para pelajar ini bahkan pernah mendapat apresiasi dari Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Menurutnya, karya kreatif seperti ini dapat menjadi motivasi bagi pelajar lain untuk terus menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Guru pembimbing Jurusan Otomotif SMK Gajah Mada Banyuwangi, Rusianto, menjelaskan ide pembuatan kompor itu berangkat dari banyaknya limbah oli bengkel maupun minyak jelantah rumah tangga yang terbuang percuma dan berpotensi mencemari lingkungan.

“Padahal ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Dengan demikian, limbah cair tersebut tidak sampai terbuang yang akhirnya bisa menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan,” jelas Rusianto.

Menurutnya, inovasi tersebut juga dilatarbelakangi keprihatinan terhadap tingginya ketergantungan masyarakat pada gas LPG. Karena itu, kompor berbahan bakar limbah ini diharapkan dapat membantu kebutuhan rumah tangga hingga pelaku UMKM kuliner.

“Maka ini bisa menjadi solusi alternatif bagi ibu rumah tangga maupun usaha kecil kuliner. Meski menggunakan bahan bakar jelantah maupun oli bekas, tidak mempengaruhi rasa pada masakan. Tidak ada bau sama sekali,” terangnya.

Kompor rakitan tersebut dibuat menggunakan bahan sederhana, seperti pipa besi sebagai rangka, blower untuk mendorong bahan bakar, keran air sebagai pengatur aliran bahan bakar, serta kaleng sebagai media pemanas.

Cara penggunaannya pun cukup mudah. Sebelum dipakai memasak, kompor dipanaskan secara manual selama sekitar lima menit. Setelah itu, bahan bakar dialirkan melalui keran, kemudian blower dinyalakan untuk mengatur besar kecilnya api.

Menariknya, hanya dengan satu liter oli bekas atau minyak jelantah, kompor tersebut mampu menyala selama tiga hingga empat jam. Selain hemat biaya, inovasi ini juga dinilai mampu membantu mengurangi limbah cair di lingkungan.

Rusianto menambahkan, pihak sekolah juga menerima pesanan kompor untuk kebutuhan rumah tangga maupun UMKM dengan harga yang terjangkau dan bisa disesuaikan kebutuhan konsumen.

“Kami menerima pesanan untuk rumah tangga maupun UMKM. Harganya sangat terjangkau, bisa custom sesuai kebutuhan,” ujarnya. (tim)