Rembug Santri Banyuwangi Tampung Aspirasi Generasi Pesantren

IMG-20261021-WA0068

BANYUWANGI (AktualLine.com)–Sebanyak 50 santri dari 15 pondok pesantren di Banyuwangi menyampaikan berbagai gagasan dan harapan dalam forum Rembug Santri yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyuwangi di Aula Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Selasa (20/10/2026). Forum ini menjadi ruang dialog antara kalangan santri dan pemerintah daerah untuk membahas persoalan sosial sekaligus merumuskan masukan bagi pembangunan.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, forum yang pertama kali diselenggarakan tersebut diharapkan mampu menjembatani kebutuhan santri dengan para pemangku kepentingan. Melalui pertemuan itu, pemerintah daerah ingin mengetahui kendala yang dihadapi santri, terutama dalam mengembangkan potensi diri dan memperoleh kesempatan berkarier di berbagai bidang.

“Kami melihat bahwa selama ini belum banyak santri yang mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi secara luas. Jumlah santri yang mampu meniti karier di bidang strategis juga masih terbatas. Lewat forum ini, kami berikan ruang kepada para santri untuk speak-up, mengungkapkan uneg-uneg, serta harapan mereka. Sehingga, pemerintah daerah tahu apa yang sebenarnya menjadi kendala untuk kemudian kita carikan solusinya,” kata Ipuk.

Sejumlah persoalan menjadi bahan diskusi dalam forum tersebut. Mulai dari fenomena sound horeg, bahaya narkoba, perundungan dan kekerasan di lingkungan pondok pesantren, hingga gambaran sosok santri ideal yang diharapkan mampu menghadapi tantangan masa depan.

Salah satu peserta, Elsya Putri Natalia Saputro, mengusulkan adanya pendampingan keterampilan nonteknis atau soft skill berbasis digital bagi para santri. Menurutnya, penguasaan keterampilan tersebut semakin dibutuhkan agar santri mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Santri kerap dinilai ketinggalan zaman dan gagap teknologi. Maka, kami berharap agar pemkab memberikan pendampingan dan pelatihan softskill berbasis digital bagi para santri. Karena di zaman yang serba digital ini, skill tersebut sangat kita butuhkan,” terang santri Pondok Pesantren Adz-Dzikra yang tengah menempuh kuliah di Universitas Cordoba Banyuwangi itu.

Selain pengembangan kompetensi digital, persoalan sound horeg juga mendapat perhatian peserta. M. Ibrahim Al Hafidi menyampaikan perlunya ketentuan hukum dan aturan yang jelas agar fenomena tersebut dapat dikelola secara bijak, tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat.

“Harus ada ketentuan hukum dan aturan yang jelas. Sehingga adanya fenomena ini tidak mengganggu, melainkan bisa menjadi ajang hiburan yang mendidik, serta memberikan dampak ekonomi bagi warga,” jelasnya.

Peserta lainnya menyampaikan harapan agar lingkungan pesantren semakin memberikan perhatian terhadap pencegahan perundungan dan kekerasan. Mereka menilai, kedekatan emosional antara pengasuh, pendamping, dan santri menjadi salah satu hal penting dalam menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman.

“Peran kyai harus bisa menggantikan sosok ayah di rumah. Pendamping kamar juga harus bisa merangkul dan mengayomi sehingga santri merasa aman dan mendapatkan kasih sayang penuh meski jauh dari orang tua,” ungkap salah seorang peserta.

Mereka juga berpandangan bahwa kurangnya perhatian dan kasih sayang dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan perilaku perundungan. Karena itu, kehadiran sosok pengganti orang tua yang mampu memberikan teladan, perhatian, dan pendampingan diharapkan dapat membantu menekan potensi terjadinya kekerasan di lingkungan pesantren.

Ipuk menegaskan, pelibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam penyusunan kebijakan daerah. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berupaya memastikan berbagai program pembangunan yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan dan persoalan yang dihadapi warga.

Selain Rembug Santri, Pemkab Banyuwangi juga rutin menggelar forum penjaringan aspirasi lainnya setiap tahun, di antaranya Rembug Lansia, Rembug Anak, Rembug Disabilitas, dan Rembug Perempuan.

“Semua rekomendasi yang muncul dalam forum tersebut, akan menjadi atensi dan bahan pertimbangan kami dalam pengambilan kebijakan daerah,” tegas Ipuk.

Rembug Santri turut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Dr. Endi Fadlullah dari Pondok Pesantren Bustanul Makmur, Ning Atina Balqis Iskandar dari Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, serta Ustaz Ghifari Miqdad Al-Ghifari dari Pondok Pesantren Daar Al Ihsan Mabadiul Ihsan, Karangdoro. (tim)