Geopark Ijen Hadapi Revalidasi UNESCO, Banyuwangi Perkuat Komitmen Lestarikan Warisan Dunia

_hakocjgae_whatsapp-image-2026-08-02-at-201620

BANYUWANGI (AktualLine.com)–Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali menunjukkan keseriusannya dalam menjaga kawasan Geopark Ijen yang telah berstatus UNESCO Global Geopark (UGG). Melalui proses revalidasi yang berlangsung tahun ini, pemerintah daerah bersama Badan Pengelola Geopark Ijen berupaya mempertahankan pengakuan internasional tersebut sebagai bagian dari warisan dunia.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan, sejak ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark, Geopark Ijen tidak lagi hanya menjadi milik Banyuwangi, melainkan juga menjadi bagian dari warisan dunia yang harus dijaga bersama.

“Geopark Ijen ini bukan lagi hanya milik Banyuwangi, tetapi sudah menjadi milik dunia. Karena itu, melalui revalidasi ini kita ingin memperlihatkan komitmen dan upaya terbaik dalam menjaga warisan dunia ini,” katanya.

Revalidasi tersebut menjadi evaluasi perdana sejak Geopark Ijen resmi bergabung dalam jaringan UNESCO Global Geopark pada 2023. Penilaian ini merupakan agenda wajib yang dilaksanakan setiap empat tahun untuk memastikan pengelolaan kawasan tetap memenuhi standar internasional.

Dalam proses evaluasi itu, UNESCO akan menentukan status Geopark Ijen melalui tiga kategori, yakni Green Card apabila seluruh standar terpenuhi, Yellow Card jika diperlukan perbaikan dalam kurun dua tahun, serta Red Card apabila status UNESCO Global Geopark dicabut.

Tim asesor yang terdiri atas Dr. Andreas Schüller dari Jerman dan Qinling Zhongnanshan dari China dijadwalkan berada di Banyuwangi dan Bondowoso selama lima hari, mulai 2 hingga 6 Agustus 2026. Keduanya melakukan peninjauan langsung terhadap berbagai aspek pengelolaan kawasan geopark.

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Pusat Informasi Geologi dan Geopark Ijen (PIGGI). Di tempat tersebut, asesor meninjau koleksi geologi sekaligus memperoleh penjelasan mengenai kekayaan warisan geologi Geopark Ijen, mulai dari batuan, fosil, hingga warisan budaya yang menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark.

“Peninjauan di PIG menjadi bagian dari evaluasi aspek edukasi dan interpretasi dalam proses revalidasi,” kata Ketua Badan Pengelola Geopark Ijen, Abdillah Baraas, Minggu (2/8/2026).

Selain itu, tim asesor juga dijadwalkan mengunjungi sejumlah geosite di Banyuwangi, seperti Taman Nasional Alas Purwo, Teluk Biru, dan Teluk Pangpang. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari penilaian terhadap pengelolaan kawasan, konservasi, serta pengembangan destinasi berbasis geopark.

Abdillah menambahkan, asesor juga akan mendatangi Desa Kemiren yang berada di kawasan Geopark Ijen serta Desa Wisata Wringin Putih. Kunjungan itu bertujuan melihat secara langsung praktik pemberdayaan masyarakat, termasuk pengelolaan kawasan mangrove yang melibatkan warga setempat.

“Asesor juga akan mengunjungi kampung Desa Kemiren Banyuwangi yang berada di kawasan Kawah Ijen dan Desa Wisata Wringin Putih untuk melihat praktik pemberdayaan masyarakat di kawasan mangrove,” jelas Abdillah.

Secara keseluruhan, revalidasi UNESCO tidak hanya menilai aspek konservasi kawasan, tetapi juga pendidikan, interpretasi, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan pariwisata berkelanjutan. Proses tersebut sekaligus menjadi momentum bagi Banyuwangi dan Bondowoso untuk menunjukkan komitmen dalam menjaga serta melestarikan warisan geologi dunia melalui tata kelola yang berkelanjutan. (tim)