Hari Santri, 100 Santri Banyuwangi Belajar Peluang Bisnis Digital hingga Affiliate
BANYUWANGI (AktualLine.com)–Peringatan Hari Santri Nasional di Banyuwangi diisi dengan pembekalan keterampilan bisnis digital bagi kalangan santri. Melalui kegiatan Entrepreneur Santri, sebanyak 100 santri dari 52 pondok pesantren mendapatkan wawasan tentang pengelolaan konten media sosial hingga pemanfaatan program afiliasi sebagai peluang usaha.
Kegiatan tersebut menghadirkan empat narasumber yang berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai dunia digital. Mereka adalah Muhammad Tristan Azaria, praktisi pembuat konten sekaligus pengajar public speaking dan mentor Masjid Affiliate Al-Kahfi Bandung; Ade Apriansyah, afiliator TikTok asal Banyuwangi; Anggrita Putra Utama, praktisi digital sekaligus pengelola akun Masjid Affiliate Al-Kahfi Bandung; serta Vicky Hendri Kurniawan, afiliator Banyuwangi.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menjelaskan, pembekalan tersebut bertujuan mempersiapkan santri agar mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai yang telah dipelajari di pesantren. Bekal itu diharapkan bermanfaat ketika mereka menyelesaikan pendidikan dan mulai berkiprah di tengah masyarakat.
“Santri hari ini harus memiliki bekal yang lengkap. Selain memperdalam ilmu agama, santri juga perlu memahami perkembangan dunia digital dan peluang ekonomi yang lahir darinya. Pengetahuan ini penting sebagai bekal ketika nanti mereka terjun di masyarakat,” kata Ipuk.
Ia menambahkan, pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang berkarakter, berakhlak, sekaligus produktif. Oleh karena itu, pengenalan terhadap peluang usaha yang sesuai dengan perkembangan zaman menjadi bagian penting dalam memperluas wawasan para santri.
“Perkembangan teknologi digital telah membuka ruang usaha yang semakin luas dan dapat diakses oleh siapa saja, termasuk lulusan pesantren. Dengan memahami ekosistem digital sejak dini, santri diharapkan mampu menciptakan peluang kerja, mengembangkan usaha mandiri, hingga menjadi agen pemberdayaan ekonomi di tengah masyarakat,” terangnya.
Dalam sesi materi, Muhammad Tristan Azaria mengajak para santri membangun pola pikir bertumbuh atau growth mindset ketika memulai aktivitas di dunia digital. Menurutnya, keberanian untuk memulai lebih penting daripada menunggu seluruh kondisi menjadi sempurna.
“Jangan bandingkan proses orang lain dengan diri sendiri. Yang sekarang jago dulunya juga amatir,” kata Tristan.
Ia juga menjelaskan bahwa konten yang baik harus mempunyai nilai atau manfaat bagi audiens. Nilai tersebut menjadi alasan seseorang bersedia menonton, membaca, maupun membagikan sebuah konten. Tanpa manfaat yang jelas, konten berpotensi dilewatkan begitu saja.
“Value bisa memberikan informasi, wawasan, keterampilan, menyentuh emosi, atau menjadi solusi,” jelasnya.
Sementara itu, Ade Apriansyah membagikan pengalamannya menjalankan bisnis afiliasi melalui TikTok. Ia merupakan afiliator dengan status TikTok Level 6, yang menunjukkan pencapaian penjualan atau volume transaksi pada tingkat tersebut.
Menurut Ade, program afiliasi dapat menjadi pilihan bagi pemula yang ingin mencoba usaha digital karena tidak membutuhkan modal besar. Selain pendaftaran yang umumnya gratis, pelaku afiliasi juga tidak harus menyimpan stok barang ataupun menangani pengiriman produk.
“Menjadi seorang afiliator menawarkan banyak keuntungan, terutama bagi pemula yang ingin terjun ke dunia digital. Kelebihan utamanya adalah modal minim dan risiko rendah. Pendaftaran program ini umumnya gratis dan tidak perlu menyetok barang ataupun mengurus proses pengiriman,” ungkapnya.
Ade mengungkapkan, salah satu produk yang menjadi andalannya saat ini adalah casing telepon genggam. Produk tersebut mampu terjual hingga ribuan buah setiap bulan.
Ia pun menyarankan santri yang ingin mencoba bisnis afiliasi agar memulainya dari produk yang sudah dikenal dan mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
“Sebagai santri, bisa menjadi affiliate dengan mulai menawarkan barang yang familier dan ada di sekitar, seperti hijab, sarung, dan lainnya,” kata Ade. (tim)
