Lewat Program Rindu Bulan, Banyuwangi Berhasil Tekan Angka Anak Putus Sekolah

IMG-20260716-WA0033

BANYUWANGI (AktualLine.com)–Komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam menjamin hak anak memperoleh pendidikan terus diperkuat melalui berbagai program dan skema bantuan. Berkat langkah tersebut, ribuan anak yang sebelumnya berstatus Anak Tidak Sekolah (ATS) berhasil kembali mengenyam pendidikan.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan, pemerintah daerah berupaya memastikan setiap anak tetap memiliki kesempatan bersekolah hingga jenjang SMA atau sederajat.

“Bagi kami, tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan apapun persoalannya. Setiap anak berhak mendapatkan haknya untuk bersekolah melalui berbagai skema bantuan,” kata Ipuk, Kamis (16/7/2026).

Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah Rintisan Desa Tuntas Wajib Belajar 12 Tahun (Rindu Bulan). Melalui program ini, pemerintah mengoptimalkan kolaborasi di tingkat desa dan kelurahan untuk mendata sekaligus mengembalikan Anak Tidak Sekolah ke jalur pendidikan, baik melalui sekolah formal maupun pendidikan kesetaraan.

Program tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa dan kelurahan, satuan pendidikan, Kementerian Agama, Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, hingga Baznas.

“Penyisiran kami lakukan dari lingkup desa. Kalau kita kunci dari wilayah terkecil, penanganannya akan lebih tepat sasaran karena penyebab anak putus sekolah berbeda-beda sehingga bentuk bantuannya juga harus disesuaikan,” jelas Ipuk.

Sejak diluncurkan pada 2023, Program Rindu Bulan telah mengembalikan sebanyak 3.259 Anak Tidak Sekolah ke bangku pendidikan.

“Tidak sekadar mengembalikan mereka ke sekolah, kami juga terus mendampingi, baik dari sisi prestasi maupun kebutuhan pendidikannya hingga lulus,” terang Ipuk.

Selain mengandalkan pendataan, Ipuk juga rutin mengunjungi rumah anak-anak yang teridentifikasi berisiko putus sekolah. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memberikan motivasi kepada anak beserta keluarganya agar tetap melanjutkan pendidikan.

“Dengan kolaborasi banyak pihak, kami berharap semakin banyak anak Banyuwangi yang bisa menyelesaikan pendidikannya. Pendidikan merupakan salah satu kunci memutus rantai kemiskinan,” tambah Ipuk.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Alfian, menjelaskan bahwa proses pendampingan diawali dengan verifikasi dan validasi data anak yang rentan putus sekolah. Setelah itu, tim melakukan kunjungan langsung ke rumah untuk mengetahui penyebab anak tidak melanjutkan pendidikan.

“Anak-anak yang memang benar berstatus ATS akan kami visitasi untuk mengetahui akar persoalannya. Dari situ kami menentukan afirmasi atau bantuan yang paling sesuai, baik mengembalikan ke sekolah formal, pendidikan kesetaraan, maupun memfasilitasi akses berbagai bantuan pendidikan yang tersedia,” kata Alfian.

Pemkab Banyuwangi juga menyediakan beragam bentuk dukungan, mulai dari bantuan perlengkapan sekolah, uang saku, pendidikan kesetaraan, hingga pendampingan bagi anak yang sempat putus sekolah agar dapat kembali belajar sesuai kebutuhannya.

Di samping itu, Banyuwangi memiliki program SAS (Siswa Asuh Sebaya). Melalui program ini, para siswa diajak menyisihkan sebagian uang saku untuk membantu teman-teman mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Bantuan yang diberikan antara lain berupa sepeda, kacamata, perlengkapan sekolah, uang saku, serta berbagai kebutuhan pendidikan lainnya.

Program tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pendidikan siswa, tetapi juga menumbuhkan kepedulian dan semangat gotong royong di lingkungan sekolah sehingga menjadi salah satu jaring pengaman sosial bagi peserta didik. (tim)