IMG_20230617_114702_774-860x860

Moh. Husen, tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur

Oleh: Moh. Husen*

MENURUT seorang teman yang namanya tidak bisa saya sebutkan di sini, mengkritik penguasa itu tak lagi mengasyikkan. Yang seru itu, katanya, bila perkara itu dilaporkan ke pihak yang berwajib.

Tentu kawan saya ini sudah kenyang dengan narasi kritik, mulai dari yang elegan sampai yang sekedar meluapkan emosi belaka. Ia juga tampak putus asa, seakan penguasa itu sudah “hafal” dan “kebal” kritik.

Kita semua tahu, bila ada penguasa dari zaman ke zaman yang sama-sama berbuat korup, akan tetapi nasib mereka bisa berbeda-beda. Ada yang tertangkap aparat penegak hukum.

Ada yang lolos hingga meninggal dunia dan khalayak umum menganggapnya sebagai orang baik, rajin shalat, donatur tetap yayasan sosial, serta naik haji dan suka bersedekah.

Maka, Jangan-jangan tokoh yang kita idolakan, yang kita hormati dan kita junjung, yang tak pernah kita serang melalui opini dan kritik keras kita: adalah seseorang yang korup pula, namun ia selalu lolos dan tak terdeksi segala tindak korupnya.

Tentu, banyak alasan kenapa orang berani berbuat korup. Bisa karena dia memang nakal. Bisa karena cemburu sosial. Bisa karena malas, menjadi orang miskin itu tidak enak, dihina orang terus menerus termasuk oleh kawan sendiri.

So, mending punya mobil dan rumah mewah, banyak yang menghormati dan memuji–tapi kalau semua itu hasil dari mencuri: tentu saja salah dan akan ada konsekuensi hukumnya.

Nah, di suatu siang, kawan saya itu, saya sodori beberapa tulisan opini kritik. Dia tidak tertarik. Baginya, kritik itu kayak film sinetron. Sedangkan dia penggemar film laga. Ia nge-fans dengan aktor kawakan Steven Seagal.

Tapi jangan salah paham. Bukan berarti kritik itu tidak penting. Sebagai “petarung” dia lebih suka baca berita LSM Melaporkan, KPK Menangkap, Polisi Meringkus, Hakim Memvonis, dan seterusnya. Kalau cuma kritik, apalagi nasihat, itu sekadar alarm peringatan yang belum klimaks, meskipun penting.

Ketika saya iseng-iseng mendesak kenapa sekarang menjadi kurang bergairah dengan sebuah kritik, padahal setahu saya dia dulu kalau mengkritik sadis sekali: bukan cuma kawannya sendiri, tapi bosnya sendiri “dihantam” dan dia dipecat.

“Ya karena jadi tukang kritik itu tidak disukai banyak orang. Mending sekarang saya mainnya silent. Saya punya data lengkap, saya laporkan, dan kita ketemu di pengadilan,” jawabnya, enteng.

Jawabannya benar-benar menunjukkan bahwa ia tak suka film sinetron. Mending berlaga tarung sekalian di pengadilan. Saya sengaja merahasiakan namanya, agar Mr Advokat yang saya tulis ini, tertawa cekikikan saat membaca tulisan ini. (***)

 

Banyuwangi, 5 Mei 2025

*Penulis buku Jejak Kritik. Tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur.