Untung dan Ibrahim
Moh. Husen, tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur
Oleh: Moh. Husen*
MUNGKIN bagi sebagian kaum muslimin, hari raya Idul Adha terasa biasa-biasa saja. Tidak ada persiapan apa-apa yang istimewa. Malam hari H cukup dilewati dengan ngopi-ngopi, santai, nonton sepakbola.
Lantas “berserah diri” besok pagi sreg shalat Idul Adha atau tidak. Berbeda dengan Idul Fitri: orang berniat dan “bercita-cita” untuk berbondong-bondong ikut shalat Id.
Seorang penulis pernah menyampaikan, objek atau peristiwa yang mau kita tulis bisa saja tetap sama atau itu-itu saja, akan tetapi yang terpenting ialah kita harus memberikan perspektif baru dari peristiwa tersebut.
Tiap tahun kita bertemu dengan Idul Adha, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Siti Hajar, air zam-zam, ibadah haji, dan seterusnya. Namun melihatnya dengan pemahaman yang baru, ini yang susah.
Ah, ngapain terlalu dikurung sebuah teori. Ingin menulis, ya menulis saja. Peduli amat dengan pandangan baru mengenai itu semua atau apapun.
Melihat sepakbola memang bukan cuma pemain dan bola saja yang terlihat, tapi lama-lama banyak yang bisa kita lihat: mulai dari watak dan lingkungan yang membesar para pemain, hingga kemungkinan wasit yang disuap demi uang.
Namun, andai kita melihat Idul Adha, Nabi Ibrahim, dan seterusnya itu hingga kini masih belum menemukan apa-apa, ya ndak pa-pa. Jangan marah kalau menjumpai khutbah Idul Adha terasa tidak kontekstual atau dari dulu begitu-begitu saja.
Biarkan saja seumpama kisah Nabi Ibrahim tidak bisa dihubungkan dengan peristiwa kekinian, misalnya saja, korupsi triliunan rupiah yang begitu menggila, atau caci maki di medsos. Bukankah orang tua kita kalau marahnya memuncak, malah bilang: “Teruskan, ayo teruskan…”
Maka, sekitar pukul 01.30 WIB, sebuah wangsit meluncur: “Untung kita ini cuma disuruh jangan mencuri. Lihat itu Nabi Ibrahim. Beliau disuruh menyembelih putranya setelah sekian lama beliau tidak dikaruniai anak. Untung kita cuma disuruh tolong menolong, jangan menghina, berbuat baik dan ramah. Tidak sampai disuruh menyembelih putra tercinta kita.”
Selamat Idul Adha. (***)
Banyuwangi, 6 Juni 2025
*Penulis buku Jejak Kritik. Tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur.
